Powered By Blogger

Senin, 04 Maret 2013

A Story Of A Fan With Rooting Disorder

Dari kecil, saya demen sama Arsenal.
Tapi tidak seperti anak lain, yang tertarik pada sebuah klub setelah menonton pertandingan klub itu.
Saya justru mengikuti perkembangan Arsenal dari sebuah koran bola.
Kedengarannya gila, tapi saya betah berada di depan koran bola seperti melihat buku bergambar.
Sejak saya TK.

Anak-anak punya kebiasaan untuk mendukung tim yang terkuat. Biasanya mereka bertanya pada orangtuanya, "Pak, tim yang paling kuat apa sih?" Orangtua mereka menjawab, "Tim X.""Oh, yaudah, berarti aku dukung Tim X!". Saat tim terkuat menjadi Tim Y, bukan Tim X lagi, maka mereka akan mendukung Tim Y. Labil ya, namanya juga anak-anak.
Saya mulai membaca koran bola di saat yang tepat. Musim 2003-2004. Arsenal sama sekali tidak terkalahkan di Premier League tahun itu. Anak mana yang tidak mau mendukung Arsenal kalau begitu? Saya juga nge-fans sama Thierry Henry. Selain karena dia mencetak banyak gol, ada satu alasan lagi yang paling penting.
Dia hitam, dan ganteng. Seorang anomali.
Dalam sekejap dia jadi pahlawan saya. Saya yang diejek karena kulit hitam pun bisa membalasnya dengan Henry, karena, well, pada waktu itu dialah penyerang terhebat di muka bumi. Saya juga suka Andriy Shevchenko, tapi pahlawan saya tetap Henry. Sayang, tidak ada pemain bola yang gendut pada waktu itu, sehingga saya bisa membalas kalau diejek gendut.
Tapi akhirnya kemenangan Arsenal di Premier League harus berakhir. Penyebabnya mempunyai 12 karakter dalam namanya. Bergelar juara Liga Champions dan Liga Portugal. Ya, Jose Mourinho. Membawa Chelsea menjadi tim yang lebih menakjubkan daripada Arsenal dan merebut titel Premier League tahun 2004-2005.
Tapi bukan Chelsea yang menghentikan kemenangan beruntun Arsenal. Tim itu adalah Manchester United.
Biasanya saya tenang-tenang saja saat melihat preview pertandingan di koran. Apalagi Arsenal masih belum terkalahkan musim itu. Tapi, saat melihat preview MU vs Arsenal, ada perasaan tidak enak. Ya, saya yang masih kelas 1 SD merasa tidak enak saat melihat Ruud van Nistelrooy dan Wayne Rooney di barisan depan MU. Benar saja, Arsenal kalah 2-0. Kekalahan pertamanya dalam 50 pertandingan terakhir di Premier League. Kekalahan yang kontroversial.
Akhirnya, Arsenal menjadi tim hebat yang biasa saja. Bukan tim juara lagi, hanya tim hebat saja. Seperti Chelsea zaman Claudio Ranieri, seperti Liverpool sebelum memenangkan Champions, seperti Leonidas dan 300 pasukan spartan yang tidak memenangkan perang bagaimanapun cara mereka.
Tapi Leonidas lebih baik.
Tahun setelah itu, Arsenal memenangkan FA Cup, titel terakhir mereka sampai sekarang. Dan akhirnya yang ditakutkan terjadi. Henry pindah ke Barcelona.
Perlahan-lahan, Arsenal hanya jadi tim besar. Dari tim juara, menjadi hanya tim hebat, lalu hanya menjadi tim besar. Leonidas berhasil menanamkan rasa takut kepada Xerxes dan pasukannya. Arsenal gagal. Mereka bukan ancaman lagi.
Akhirnya, saya tertarik pada Tottenham Hotspurs. Sebelum zaman Gareth Bale, sudah ada Jermaine Jenas, Jermain Defoe, dan Aaron Lennon. Lennon-lah yang membuat saya tertarik. Kecepatannya yang tidak nyata dan tinggi badannya yang imut memikat saya.
Waktu itu saya belum tahu kalau Spurs dan Arsenal adalah musuh bebuyutan. Bodoh sekali.
Dan Gareth Bale tiba-tiba jadi sensasi. Membuat Maicon terlihat seperti anak SMP yang diajak main futsal dengan temannya, namun ternyata musuhnya Pele. Iya sih, Bale memang tidak bermain seperti Pele. Tetapi Bale sendiri saja sudah merupakan ancaman yang lebih menakutkan daripada satu tim Arsenal.

Sekarang, mantan tim juara itu berkejar-kejaran dengan Spurs. Sayangnya, Spurs yang berada di depan Arsenal berhasil menyandung langkah Arsenal dalam mengejar mereka. Dan yang mengalahkan Arsenal adalah dua sayap menakutkan dari Spurs. Ya, yang membuat saya tertarik dengan Spurs. Gareth Bale dan Aaron Lennon.
Tapi, saya tidak tertarik untuk mendukung Spurs. Saya lebih suka Arsenal. Walaupun mereka tersungkur dan tersungkur lagi, fans tetap sabar dan mendukung Arsenal.
Walaupun jersey yang saya pakai jersey Spurs.
Walaupun pemain favorit saya Aaron Lennon.
Walaupun saya lebih memilih Spurs daripada Arsenal saat bermain PES.
Bahkan glove softball yang ingin saya miliki pun merknya Under Armour.

I'm still rooting for The Gunners, who didn't shot for any titles in last 8 years.

2 komentar: