"Ayo! Tinggal 100 meter lagi!"
Tapi aku sudah ingin berhenti. Sungguh, ini memalukan.
Sayangnya, kakiku tidak membiarkanku melakukan itu.
Dari kecil, aku sudah suka berlari. Kamu tidak akan bisa kabur dari kejaran anjing yang galak tanpa berlari. Kamu tidak bisa menahan serangan lawan dalam sepakbola tanpa berlari (sebenarnya kiper tidak banyak berlari, tapi aku tidak bisa jadi kiper). Kamu tidak bisa datang tepat waktu di sekolah saat tinggal 30 detik lagi pintu ditutup tanpa berlari. Kamu tidak bisa mengejar temanmu yang jahil tanpa berlari. Maka, berlari adalah bagian dari hidupku. Tapi tak pernah terpikirkan olehku mengikuti lomba berlari.
Di sekolah, aku dijuluki "si langkah cepat". Karena berjalanku termasuk tercepat di sekolah. Aku tidak terbiasa berjalan lambat. Jika aku mencoba berjalan lambat, maka dadaku akan terasa sakit. Maka, aku sebut melangkah setengah berlari itu "berjalan". Jika guru menyuruhku untuk jogging, aku malah berlari seperti maling yang dikejar satpam yang membawa golok. Tetapi, sungguh, aku hanya suka berlari. Aku tidak merasa cepat, dan memang aku tidak cepat. Tapi, tetap saja, aku selalu mengalahkan teman-temanku dalam hal berlari.
"Rik, kamu kok larinya cepet banget?"
"Kalian aja yang lambat, kali."
(lalu aku dijitaki oleh teman-teman)
Aku pun tidak mengerti. Menurutku, orang yang pantas disebut pelari cepat paling tidak berlari seperti Cristiano Ronaldo, atau Theo Walcott, atau paling tidak Atep lah. Maka, aku yang lari lebih lambat dari Herman Dzumafo yang mencoba lepas dari play Carles Puyol tidak bisa dibilang cepat. Tapi, tetap saja, guru-guru memilihku untuk ikut lari maraton 42 km.
"Hah? Aku gak akan kuat, bu."
"Kamu jangan rendah diri gitu, Ibu yakin, dengan begitu kamu pasti bisa juara."
"Hah?"
"Kamu itu pelari paling cepat di antara temen-temen kamu. Ketahanan tubuh kamu juga kelihatannya tinggi. Pas temen kamu udah jatuh dan merangkak nyari-nyari minum, kamu kelihatannya masih kuat untuk lari lima kali keliling Monas."
"Mungkin cuma kelihatannya aja, bu."
"Udah lah. Besok latihan ya sama Pak Roni! Ditunggu di lapangan deket kolam renang!"
Maka, pada besok harinya aku mengikuti latihan di lapangan. Ternyata, latihan tersebut merupakan latihan gabungan. Sial. Aku harus melihat pesaing-pesaingku yang larinya seperti copet dikejar massa. Aku hanya termenung. Latihan yang dilakukan, selain latihan kecepatan, merupakan latihan ketahanan. Karena, tidak penting berlari cepat di maraton, yang penting larimu tahan lama.
"Ayo, renang juga termasuk cara untuk meningkatkan ketahanan dan meningkatkan pernapasan."
"Tap-"
*BYUR*
Aku didorong ke dalam kolam. Untung saja aku masih bisa meraih pinggiran kolam. Sialan.
Sesaat kemudian, anak yang mendorongku juga didorong oleh temannya ke kolam. Karma memang menakutkan. Tetapi, dia menarik kaki temannya sehingga ia terpeleset. Kepala temannya menghantam lantai sebelum terjatuh ke dalam kolam. Dia tertawa seperti seorang psikopat. Temannya marah, sampai kemarahannya mengalahkan rasa sakitnya. Dia memukul dan bertengkar, tidak sadar bahwa kepalanya berdarah. Air di sekitarnya berubah menjadi warna merah. Sesaat aku bersyukur kami tidak berada di laut lepas. Aku tak mau jadi santapan hiu. Akhirnya seorang guru memberhentikan mereka, dan mengobati yang terluka. Dia meringis seperti pengecut saat diobati.
Tiba-tiba seseorang di sebelahku menyentu pundakku.
"Haha, mereka bego banget, ya."
"Sialan, aku pake dijatuhin segala."
"Sabar ya, ehehe. Oh iya, aku Sani."
Dia menyodorkan tangannya.
"Riki."
"Oh iya, sekilas info, kamu gak pantes ada disini. Ini pelatihan atlit, bukan manajer. Daah. Aku mau ke seberang dulu."
"Makasih infonya."
Aku sadar aku gak mungkin menang, tapi aku gak tau kenapa aku gak mau ninggalin tempat ini.
Ups, gaya bahasa berubah.
Akhirnya, latihan gila 2 minggu selesai. Dan kini, aku berada di Bali, sialnya bukan untuk liburan.
Kepalaku pusing melihat ratusan peserta dari kota-kota lain berkumpul di tempat masing-masing. Ada yang mengikat sepatunya, minum, bercanda dengan orang tuanya, bahkan ada yang mengumpankan sepatu temannya kepada seekor anjing. Aku hanya diam.
"Rik, semangat ya. Kita selalu ngedukung kamu. Kecuali kalau ada orang ganteng, kita ngedukung orang ganteng," kata seorang temanku.
"Makasih infonya."
Akhirnya, peserta berkumpul di garis start. Oh, sial. Jarak kami terlalu dekat. Banyak yang mendorong-dorong peserta lain agar ia dapat start paling bagus. Aku segera berlari ke belakang untuk menghindari tingkah bodoh itu. Panita bahkan tidak mencoba memberhentikan mereka, mungkin panitia merasa dorong-dorongan itu menarik. Sial.
Peluit dibunyikan. Banyak orang yang berjatuhan dan tersungkur di tanah, lebih banyak daripada orang yang berlari dengan mulus. Kebanyakan justru berlari tunggang langgang dari langkah pertama.
Aku mengambil langkah pertamaku. Melewati puluhan manusia yang tersungkur dan merasa hina karena kalah sebelum pertandingan dimulai. Maaf ya, aku harus melewati kalian.
Aku melihat belasan peserta lain berlari di depanku. Terus begitu sampai 6 km pertama. Semakin lama setelah itu, jumlah orang yang aku lihat di depanku berkurang. 16, 13, 9, 8, 6, 4, 1, sampai tidak ada siapa-siapa.
Sial, aku malu sekali, kalah seperti ini. Kenapa aku harus terus melakukan ini?
Akhirnya, aku mencapai 500 meter terakhir. Hari semakin panas. Aku sangat ingin berhenti untuk menikmati keindahan Bali, tapi tidak bisa saat ini.
"Ayo! Tinggal 100 meter lagi!"
Tapi aku sudah ingin berhenti. Sungguh, ini memalukan.
Sayangnya, kakiku tidak membiarkanku melakukan itu.
Akhirnya, aku memutuskan berlari sekuat mungkin melewati garis finis. Orang-orang tiba-tiba bertepuk tangan. Beberapa bahkan melongo seperti tidak percaya.
Mereka merayakan orang yang datang terakhir?
Tampaknya tidak. Berarti mereka hanya kumpulan orang-orang sopan yang menghargai perjuangan setiap pelari.
"Rik, keren banget! Kamu kok bisa kuat gitu larinya?"
"Kuat gimanapun kalau kalah percuma."
(temanku menjitakku)
"Kamu menang, bego."
"Eh?"
Aku baru sadar tidak ada peserta lain di sini. Aku yang pertama kali menyentuh garis finis. Hah? Menang?
"Yang lain pada dimana?"
"Di belakang kamu lah, bego."
"Terus, kenapa aku gak ngerasa nyusul siapa-siapa di jalan?"
"Ah, bego, kamu ngeliatnya lurus ke jalan, gak liat kali di pinggiran pada berhenti."
"Hah, emang maraton boleh berhenti?"
"Ada kali di buku peraturan yang dikasiin kemaren lusa."
"Ha, ada buku peraturannya?"
(temanku menjitakku lagi)
Aku membacanya. Disana memang tertulis boleh berhenti selama tidak di lintasan lari.
Ah, percuma saja. Walaupun aku tahu, aku tak mungkin berhenti. Bahkan sekarang, kakiku masih ingin berlari. Tapi, aku tidak menyangka aku menang. Hebat!
"Tuh kan, aku gak lambat."
"Aku lambat. Mereka aja yang lemah."
Tiba-tiba orang-orang memandangiku tajam. Ups.
Aku masih tidak percaya aku menang.
Peserta kedua yang mencapai garis finis baru datang 2,5 jam kemudian.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar